Mywhitepurple’s Blog

Secuil Cerita Trimurti

Posted on: May 10, 2009

trimurti_sampul

Semangatnya tidak pernah putus untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Tak cukup hanya lewat tulisan. Juga mendorong dan mebidani organisasi-organisasi berbasis perempuan.

SK Trimurti amat lekat dalam ingatan bangsa Indonesia. Namun tak banyak yang menyadari, bahwa SK di depan namanya itu merupakan kepanjangan dari Soerastri Karma.

“Apalah nama, bukanlah setiap orang telah menempatkannya dalam kursi kehormatan yang bergelimang jasa,” begitu suara alam bawah sadar sebagian besar anak bangsa.

Perempuan perkasa itu telah meniggal dunia pada tanggal 20 Mei 2008 yang lalu. Tapi nama harumnya tak pernah mati.

Dengan berbekal Tweede Indlansche School, istri Sayuti Melik (pengetik naskah proklamasi) itu memulai karir sebagai guru SD di Bandung, Surakarta dan Banyumas pada 1933 pada usia 21 tahun. Pada saat yang sama, aktif dalam pergerakan kemerdekaan yang aktif di Partindo (Partai Indonesia). Ia sebarkan pamflet-pamflet pembakar semangat merdeka. Aktivitasnya diganjar dengan hukuman penjaraoleh pemerintah kolonial Belanda di Penjara Bulu (Semarang) selama sembilan bulan.

Selepas dari penjara, perempuan kelahiran Boyolali 11 Mei 1912 itu berganti karir menjadi seorang jurnalis. Tulisan-tulisan pengobar semangat kemerdekaan tersebar di koran Pesat, Genderang, Bedung, dan Pikiran Rakyat. Untuk menghindari kejaran Belanda, digunakannya ‘nama pendek’ Trimurti atau Karma.

ia juga gigih memperjuangkan hak-hak pekerja. Karena itu, pada tahun 1947-1948 SK Trimurti dipercaya untuk menjabat Menteri Perburuhan pada masa Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

Semangatnya tidak pernah putus untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Tak cukup hanya lewat tulisan, juga mendorong dan membidani organisasi-organisasi berbasis perempuan.

Dalam usia 41 tahun, SK Trimurti kuliah lagi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dengan alasan lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan pendidikannya, ia menolak tawaran untuk menjadi Menteri Sosial tahun 1959.

Pada masa Orde Baru (Pemerintah Presiden Soeharto), SK Trimurti tercatat sebagai salah satu penandatangan Petisi 50 pada tahun 1980. Petisi 50 merupakan kelompok yang berani terang-terangan mengkritik pemerintah ketika Presiden Soeharto berkuasa.

Seperti kisah-kisah kepahlawanan dalam komik, hidup SK Trimurti selalu bergulat dengan perlawanan terhadap kekuasaan politik yang menindas. Penghargaan diterimanya hanya pada sepenggal pendek masa hidupnya.

Sisa hidupnya dihabiskannya di rumah kontrakan di daerah Bekasi. Ketika SK Trimurti meninggal, beliau dimakamkan di Kalibata. Simbol penghargaan ketika beliau telah tiada.

dikutip dari rubrik profil dari sebuah koran lokal di Gorontalo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: